Salah satu baris puisi dari Chairil Anwar yang sangat terkenal. Kata-kata dalam baris puisi inilah yang menjadi ciri khas dari Chairil Anwar sebagai seorang tokoh yang “menggebrak” dunia sastra Indonesia yang terikat dengan banyak aturan. Walaupun kemunculan Chairil Anwar diikuti oleh para seniman yang menulis puisi dengan gaya senada, hal ini tidak membuat Chairil berhenti berkarya. Hingga ajal menjemputnya di usia yang masih muda.
Padahal dengan lantang Chairil berkata bahwa dirinya ingin hidup seribu tahun lagi. Namun kenyataan berkata lain. Toh, Izrail tetap mencabut nyawa penyair besar ini. Di masa-masa yang dapat dikatakan sebagai masa keemasan dan kejayaannya. Namun bila kita cermati petikan puisi “Aku” tersebut, maka sesungguhnya yang dikatakan Chairil pada saat itu memang benar-benar terjadi.
Selamanya Chairil akan dikenang di jiwa pembaca puisinya. Saat ini, setelah 60 tahun kematiannya, orang-orang masih membaca karyanya. Para guru Bahasa Indonesia masih menghayati membacakan puisi “Karawang-Bekasi” yang sarat nilai nasionalisme di depan para murid. Dan mahasiswa Sastra Indonesia masih akan membaca terjemahannya “Pulanglah Dia si Anak Hilang”. Dan tak diragukan lagi, Chairil Anwar akan terus hidup di hati para penikmat seni.
Jadi, walaupun dirinya telah berpulang, namun sesungguhnya sampai seribu tahun lagi orang-orang akan terus membaca puisinya, akan terus mengenangnya, dan akan terus memegang teguh semangatnya. Seperti kata pepatah,
“Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, dan manusia mati meninggalkan nama”
Chairil Anwar akan terus hidup di hati penggemarnya.

Puisi yang sangat bagus!