Semakin mendekati hari pelaksanaan pesta demokrasi pilpres 2009, rasanya semakin panas saja suasana politik Indonesia. Salah satunya adalah adanya isu kampanye hitam yang dilakukan salah seorang capres.
Awalnya, saya mendengar isu black campaign ini dari salah satu berita di televisi. Ada seseorang yang membagi-bagikan selebaran pada kampanye capres J yang menyebutkan bahwa istri dari cawapres B adalah seorang non muslim. Pada akhirnya, orang yang membagikan selebaran tersebut menjadi tersangka tunggal dalam kasus ini. Sedangkan narasumber di artikel tersebut, saat dikonfirmasi, tetap bersikukuh dengan pendapatnya walaupun istri cawapres B sudah memberikan pernyataan bahwa dirinya adalah seorang muslimah.
Yang sedang hangat saat ini adalah pendapat seorang tim sukses yang menyinggung perasaan sebuah suku. Dia menyatakan bahwa belum saatnya orang Bgs menjadi seorang presiden. Kata-katanya ini mengundang reaksi keras dari tokoh masyarakat yang berpendapat bahwa pernyataan tersebut justru memecah belah ke-bhineka tunggal ika-an yang dijunjung tinggi oleh seluruh masyarakat Indonesia. Tokoh masyarakat ini menuntut permintaan maaf, namun, seperti yang saya saksikan di berita malam ini, dia tetap memegang teguh pendapatnya. Yang agak aneh, saat muncul berita ini, kasus black campaign yang pertama menjadi redup dan jarang muncul lagi beritanya.
Apakah kasus black campaign yang pertama telah selesai diperkarakan? Bukankah orang yang membagi-bagikan selebaran kampanye hitam hanya menjadi orang yang disuruh? Mengapa perkataan seorang tim sukses sangat di blow up oleh media sehingga memberikan pengaruh yang besar terhadap imej capres tertentu? Rakyat semakin dibingungkan dengan adanya isu-isu kampanye hitam. Memikirkan janji-janji para capres dan cawapres saja sudah pusing, apalagi ditambah kasus kampanye hitam seperti ini?
Nampaknya hanya satu pasangan capres saja yang tidak terkena isu black campaign ini. Apakah pasangan ini justru yang terbaik? Penilaian akhir dikembalikan pada rakyat. Rakyatlah yang mampu menentukan siapa pemimpin terbaik bagi negara ini. Siapapun yang menjadi presiden, semoga saja amanah dalam menjalankan tugas, selalu berpihak kepada rakyat, serta dapat menjaga kedaulatan dan aset-aset negara ini.
Jadi, ekonomi kerakyatan, lanjutkan, atau lebih cepat lebih baik? Andalah yang menentukan tanggal 8 Juli nanti. Jangan sampai golput, nasib negara ini ada di tangan kita!
