Salah satu, mungkin satu-satunya penyair yang paling kusuka. Sampai sekarang ku masih berharap, seseorang akan ngasih buku “Tiga Menguak Takdir” atau “Aku” untuk hadiah ulang tahunku.
AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Ku bahkan nggak peduli kalo toh “Krawang -Bekasi” atau “Dara, Dara” adalah terjemahan dan bukan karya asli Chairil Anwar. Karena bahasanya yang gamblang dan terus terang membuatku jadi tambah nge-fans sama bapaknya Evawani Chairil Anwar ini.
Pertama kali aku baca karya Chairil pas ku masih SMP. Ku baca dari “Angkatan 45″ atau “Angkatan 66″. Sebelumnya aku udah baca Krawang-Bekasi dari buku teks Bahasa Indonesia. Tapi waktu itu ku terkesan tanpa tau siapa pengarangnya. Cuma puisi Chairi Anwar yang langsung bisa ku pahami isinya. Setelah itu ku sempat baca “Aku”nya Sumandjaya yang booming dan diterbitkan lagi karena nampang di “Ada Apa Dengan Cinta”. Ku masih bingung knapa sampai sekarang buku itu belum ada yang memfilmkan. Padahal jalan ceritanya bagus.
Whatever people say about him, I always admire him.
28 April : Hari Chairil Anwar
