Baru saja saya menyaksikan berita di salah satu stasiun televisi. Ternyata Badan Urusan Rumah Tangga DPR telah menganggarkan Rp 5 Milyar untuk cinderamata para anggota DPR yang terhormat periode 2004-2009 sebanyak 550 orang berupa  sebuah cincin emas.

Berikut adalah kutipan berita yang saya dapat dari Yahoo

“Hal ini diketahui dari surat (soft copy) pengumuman lelang yang bocor ke media, Minggu (8/6/2009). Dalam surat berkop ‘Bagian Perlengkapan-Biro Umum, Sekretariat Jenderal DPR RI’ dengan No. 521111/MUM/ARTK.110/03/ROUM/VI/2009 itu, tertulis nilai pagu anggaran sebesar Rp 4.974.200.000,-

Layaknya pengumuman lelang, dalam surat juga tertulis beberapa persyaratan bagi perusahaan yang ingin mengikuti proses tender. Yakni, Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), seritikat jaminan kualitas, serta Akte Pendirian Perusahaan dan perubahannya.

Anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR dari FPKS, Abdul Hakim mengatakan, pengadaan cinderamata memang telah dianggarkan dalam APBN 2009.

“Itu pernah dirapatkan antara pimpinan BURT dan pimpinan DPR, dan (memang) dianggarkan saat pengesahan anggaran (APBN 2009) Oktober 2008,” katanya.

Namun demikian, Abdul tidak mengetahui persis apa keputusan akhir soal pengadaan cenderamata tersebut.

“Saat itu belum ada keputusan akhir,” pungkasnya.”

Ternyata cinderamata ini telah “dirapatkan” oleh Badan Urusan Rumah Tangga DPR dan rencananya akan diberikan saat tugas DPR periode 2004-2009 berakhir. Pikiran saya kemudian melayang pada berita tadi pagi. Sebenarnya suatu acara bincang-bincang terkait kasus Prita Mulyasari. Di acara tersebut diundang wakil dari DPR dan suatu lembaga keperawatan. Ternyata telah terjadi mogok perawat nasional yang menuntut adanya UU profesionalisme keperawatan. Tapi apa kata DPR? Wakil dari DPR tersebut berkata bahwa tidak mungkin menyelesaikan UU dalam waktu sesingkat itu. Padahal, lanjut DPR, tanggal 3 nanti mereka sudah masa reses atau istirahat. Dan masa tugas mereka berakhir pada September nanti.

Seperti kata pepatah “Tak ada akar rotan pun jadi”, maka para anggota dewan mungkin akan berkata “Tak ada dana purna bhakti, cincin emas pun jadi”.